Sabtu, 02 Februari 2013

pengkajian fisik persistem chapter 1


PEMERIKSAAN FISIK PERSISTEM
PADA LANSIA

Pertama – tama sebelum melakukan pengkajian, hendaknya terlebih dahulu kita melakukan kontrak waktu dengan pasien, setelah itu kita melakukan informed consent dengan menyebutkan nama, menjelaskan tujuan pemeriksaan dan meminta persetujuan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah buat lingkungan senyaman mungkin sehingga pasien tidak merasa bosan, selain itu hendaknya melakukan pengkajian dari bagian atas tubuh kebagaian bawah tubuh.
Untuk pengkajian sistem neurologi bisa dilakukan sejalan dengan pengkajian sistem lain pada tubuh. Untuk menghemat waktu dan efektivitas pengkajian sistem pencernaan dilakukan bersamaan dengan pengkajian sistem perkemihan karena keduanya berpusat pada abdomen.

A.      Pengkajian Umum
1.       Anamnesa
a.       Nama
b.      Usia
c.       Tempat, Tanggal, Lahir
d.      Alamat
e.      Pendidikan Terakhir
f.        Pekerjaan
g.       Agama
h.      Status Perkawinan
i.         Suku
j.        Golongan Darah
k.       Genogram (3 generasi keatas)
2.       Tanda – tanda vital
a.       Tekanan Darah
b.      Nadi
c.       Respirasi
d.      Suhu
e.      Berat Badan
f.        Tinggi Badan
3.       Riwayat Kesehatan
a.       Riwayat Kesehatan Sekarang
b.      Riwayat Alergi
c.       Riwayat Kesehatan Dahulu
d.      Riwayat Kesehatan Keluarga
4.       Short Portable Mental Status Questionaire (SPMSQ)
a.       Sekarang Hari apa?
b.       Tanggal berapa, bulan apa, tahun berapa?
c.       Apa nama tempat ini?
d.      Berapa nomor telepon Anda? (jika tidak mempunyai telepon tanyakan alamat lengkap)
e.      Kapan Anda lahir?
f.        Siapa nama presiden sekarang?
g.       Siapa nama presiden sebelumnya?
h.      Berapa umur Anda?
i.         Siapa nama ibu Anda?
j.        Berikan perhitungan sederhana (misal 10 – 3 lalu dikali 2)
Untuk mengetahui hasil test intelektual ini dapat diketahui dengan kriteria sebagai berikut:
a.       Kesalahan 0 – 2                 : fungsi intelektual utuh
b.      Kesalahan 3 – 4                 : kerusakan intelektual ringan
c.       Kesalahan 5 – 7                 : kerusakan intelektual sedang
d.      Kesalahan 8 – 10               : kerusakan intelektual berat
Bisa dimaklumi jika pasien terdapat lebih dari satu kesalahan jika pasien berpendidikan terakhir SD.



B.      Pengkajian Persistem
1.       Sistem penglihatan
a.       Alat yang digunakan:
1)      Senter atau penlight
2)      Snellen chart
3)      Ichihara
4)      Stetoskop
5)      Hanscoon
6)      Cotton buth atau gulungan kapas steril
b.      Tata Laksana:
1)      Inspeksi
a)      Lihat keadaan umum mata, apakah terdapat kelainan pada mata.
b)       Lihat keadaan pupil,apakah mata pasien strabismus apa tidak, bentuk, ukuran.
c)       Lihat keadaan kornea mata, apakah terdapat katarak
d)      Lihat keadaan sklera mata, apakah pasien ikterus, non ikterus, merah, atau keruh.
e)      Lihat konjungtiva pasien dengan cara pemeriksa duduk berhadapan dengan pasien lalu gunakan hanscoon apabila terlihat adanya sekret pada mata. Minta pasien untuk menatap lurus kedepan. Letakkan kedua ibu jari dibawah mata, lalu tarik perlahan kulit bawah mata. Apabila warna dari konjungtiva pink maka pasien ananemis, namun apabila konjungtiva pasien pucat maka pasien diduga anemis. Bisa juga dilakukan dengan cara lain yaitu pemeriksa berdiri membelakangi pasien lalu pasien diminta untuk menatap lurus kedepan, tarik keatas secara perlahan kelopak mata dan lihat warna bagian dalamnya.
f)       Catat hasil pemeriksaan
2)      Palpasi
Palpasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada nyeri tekan atau teraba adanya massa pada mata pasien. Jika pasien merasakan nyeri tekan kemungkinan Tekanan Intra Okuler pada mata tinggi, sedangkan jika teraba massa ada kemungkinan adanya tumor pada mata, yang dapat diketahui dengan pemeriksaan penunjang. Cara melakukan palpasi pada mata yaitu:
a)      Mintalah pasien untuk berkoordinasi jika pasien merasakan nyeri tekan atau tidak.
b)      Mintalah pasien untuk menutup mata dengan rileks.
c)       Lakukan dengan kedua jari ( jari tengah dan jari telunjuk) tekan dengan lembut  dari samping mata kearah hidung.
d)      Catat hasil pemeriksaan

3)      Auskultasi
Auskultasi dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat bunyi bruit pada mata. Auskultasi dilakukan dengan cara:
a)      Mintalah pasien untuk menutup mata dengan rileks
b)      Letakkan membran stetoskop pada mata, dan dengarkan
c)       Catat hasil pemeriksaan
4)      Uji Refleks
a)      Refleks Pupil Terhadap Cahaya:
(1)    Atur pencahayaan ruangan
(2)    Minta pasien untuk menatap lurus kedepan dan minta pasien untuk tidak menggerakkan kepalanya.
(3)    Sinari pupil dari samping dengan menggunakan senter atau penlight.
(4)    Amati apakah pupil mengecil ketika disinari.
(5)    Lakukan pada pupil yang lain
(6)    Catat hasil pemeriksaan
b)      Refleks Berkedip
Refleks berkedip dilakukan dengan  cara menyentuhkan cotton buth atau gulungan kapas pada mata, lakukan dari samping. Perhatikan refleks berkedip, catat hasil pemeriksaan.
c)       Refleks Akomodasi (Daya Akomodasi)
Refleks ini bertujuan untuk mengetahui Daya Akomodasi pada lansia. Mata pada lansia sering mengalami gangguan penglihatan terutama penglihatan jarak dekat (hipermetropi), atau bisa juga pasien mengalami gangguan penglihatan jarak dekat dan jarak jauh (presbiopi). Cara mengetahui Daya Akomodasi pasien yaitu:
(1)    Anjurkan klien menatap objek yang jauh (dinding), tanya apa yang dilihat oleh pasien.
(2)    Anjurkan pasien menatap objek dekat ( 25 – 30 cm) dari hidung pasien (misal pinsil atau bulpoin), tanya apakah pasien dapat melihatnya atau tidak. Daya akomodasi pada mata : 4-100/PP , dengan PP adalah jarak tedekat yang dapat dilihat oleh pasien. Satuan yang digunakan adalah dioptri.
(3)    Catat hasil pemeriksaan
5)      Pergerakan Bola Mata.
Pergerakan bola mata ditujukan untuk mengetahui apakah pergerakan bola mata pasien sama, atau terjadi deviasi pada salah satu bola mata, selain itu juga untuk mengetahui apakah ada pergerakan secara spontan dari bola mata pasien diluar kontrol pasien.
a)      Anjurkan klien untuk menatap lurus kedepan
b)      Amati kedua mata, apakah ada pergerakan secara spontan atau nistagmus atau hanya diam.
c)       Amati frekuensi (cepat atau lambat), amplitudo (luas atau sempit), bentuk jika ditemukan adanya nistagmus.
d)      Amati kedua bola mata apakah memandang lurus kedepan atau salah satunya deviasi (bola mata yang kanan dalam keadaan normal ditengah sedangkan yang kiri letaknya lebih ke samping kanan atau kiri, atau sebaliknya). 
e)      Letakkan jari telunjuk didekat pasien lurus hidung dengan jarak 25 – 30 cm, minta pasien untuk mengikuti pergerakan jari telunjuk tanpa harus mengubah posisi kepala (kepala tidak ikut bergerak hanya bola mata saja yang bergerak). Gerakkan jari telunjuk dari atas kebawah, kanan ke kiri, diagonal atas ke bawah kiri, diagonal keatas dan bawah kanan.
f)       Catat hasil pemeriksaan
6)      Ketajaman Penglihatan
a)      Pengkajian Tahap 1
(1)    Pastikan cahaya diruangan terang
(2)    Pastikan pasien dapat membaca
(3)    Minta klien membaca dengan suara keras (koran, majalah)
(4)    Jika pasien menggunakan kacamata, pada tahap ini kacamata boleh dipergunakan.
(5)    Perhatikan jarak naskah yang dipegang dengan matanya
(6)    Catat hasil pemeriksaan
b)      Pengkajian Tahap 2
(1)    Atur pencahayaan ruangan
(2)    Siapkan kartu Snellen, pajang didinding
(3)    Atur tempat duduk klien dengan jarak 5 – 6 meter dari kartu.
(4)    Instruksikan untu pasien menutup sebelah matanya
(5)    Periksa mata pasien dimulai dari huruf yang paling besar ke huruf yang paling kecil.
(6)    Lakukan hal yang sama pada mata yang lain.
(7)    Catat hasil pemeriksaan.
7)      Penglihatan Warna
a)      Atur pencahayaan ruangan terang
b)      Siapkan kartu Ichihara
c)       Instruksikan klien untuk menyebutkan gambar atau angka yang terdapat pada kartu tersebut.
d)      Catat hasil pemeriksaan.
Catatan: bila pasien diketahui terdapat katarak, pemeriksaan diatas dapat tetap dilakukan, namun jika katarak yang diidap sudah menutup semua kornea, maka pemeriksaan hanya difokuskan pada mata yang belum terdapat katarak.

2.       Sistem Pendengaran
a.       Alat Yang digunakan
1)      Senter atau lampu kepala.
2)      Hanscoon (jika perlu)
3)      Garpu Tala
b.      Anamnesa
1)      Tanyakan pada pasien apakah pasien pernah mengalami infeksi pada telinga, keluar cairan dari telinga, atau trauma pada telinga.
2)      Tanyakan pada pasien apakah pasien pernah mengalami vertigo (pusing 7 keliling) jika iya, tanyakan frekuensi terjadinya, dan lama terjadinya, lalu cara yang dilakukan oleh lansia ketika mengalami vertigo, kapan atau pada saat apa vertigo biasanya muncul.
3)      Catat hasi anamnesa
c.       Tata Laksana
1)      Inspeksi
a)      Posisikan pasien dalam posisi duduk, jika memungkinkan.
b)      Posisikan pemeriksa menghadap telinga yang akan dikaji.
c)       Atur pencahayaan agar terang
d)      Inspeksi telinga luar, posisi, warna, ukuran, bentuk, kebersihan, kesimetrisan
e)      Inspeksi lubang telingan pasien dengan cara pegang daun telinga, perlahan lahan tarik daun telinga keatas dan kebelakang sehingga lurus.
f)       Periksa kebersihan, adanya peradangan, atau adanya cairan dalam lubang telinga.
g)      Catat hasil pemeriksaan
2)      Palpasi
a)      Instruksikan pasien untuk mengatakan jika terasa adanyanya nyeri tekan
b)       Palpasi telinga dari jaringan lunak ke jaringan yang keras, dengan menggunakan jari telunjuk dan jempol.
c)       Lakukan penekanan pada area trangus (atas telinga) lalu ke tulang mastoid (belakang telinga), dan dibawah daun telinga. Raba apakah ada massa atau nyeri tekan.
d)      Catat hasil pemeriksaan
3)      Pemeriksaan Pendengaran
a)      Pemeriksaan Rinne
(1)    Instruksikan pasien untuk memberitahu jika pasien tidak merasakan getaran atau merasakan getaran
(2)    Bunyikan garpu tala
(3)    Letakkan tangkai garpu tala pada tulang mastoid (bagian belakang telinga) pada telinga kanan
(4)    Lakukan pada bagian telinga yang kiri
(5)    Catat hasil pemeriksaan
b)      Pemeriksaan Swabach
(1)    Instruksikan pasien jika pasien tidak mendengar atau mendengar suara.
(2)    Bunyikan garpu tala
(3)    Letakkan garpu tala didepan lubang telinga dengan jarak 1 – 2 cm pada telinga
(4)    Lakukan pada telinga kiri
(5)    Catat hasil pemeriksaan
c)       Pemeriksaan Webber
(1)    Bunyikan garpu tala
(2)    Letakkan garpu tala di tengah puncak kepala pasien
(3)    Tanyakan pasien apakah bunyi yang terdengar sama jelas dikedua telinga atau lebih jaelas pada salah satu telinga.
(4)    Catat hasil pemeriksaan
3.       Sistem Pernapasan
Pengkajian pada sistem pernapasan dimulai dari sistem pernapasan bagian atas kemudian ke bagian bawah. Pada pengkajian sistem ini juga bisa dilakukan secara bersamaan pengkajian sistem neurologi pada indra pembau.
a.       Alat Yang Digunakan
1)      Stetoskop
2)      Handscoon (jika perlu)
3)      Masker
4)      Spidol
5)      Senter atau penlight
6)      Kom kecil yang berisi kapas dengan bau minyak kayu putih, alkohol, minyak wangi, kopi.
b.      Anamnesa
1)      Tanyakan pada psien apakah pasien memiliki alergi pada sistem pernapasannya (debu, atau yang lain).
2)      Tanyakan apakah pasien memiliki riwayat penyakit asma, jika iya tanyakan apa yang biasa menjadi penyebab terjadinya, lama terjadinya serangan asma.
3)      Tanyakan pada psien apakah saat ini sedang mengidap flu atau tidak.
4)      Tanyakan apakah pasien memiliki riwayat penyakit pada sistem pernapasan baik pernapasan bagian atas ( sinusitis, polip, dll) atau bagian bawah ( pnemonia, bronkhitis, bronkopnemoni, TBC), jika iya tanyakan riwayat pengobatan.
c.       Tata Laksana
1)      Alat pernapasan Bagian Atas
a)      Inspeksi
(1)    Atur pencahayaan ruangan
(2)    Posisikan pasien duduk, pemeriksa duduk berhadapan dengan pasien
(3)    Lihat keadaan hidung, septum hidung (penyekat hidung), warna kulit hidung, kesimetrisan lubag hidung, pengeluaran sekret dari hidung (jika ada catat karakteristik, jumlah, dan warna)
(4)    Gunakan senter atau penlight untuk melihat bagian dalam lubang hidung, lihat kebersihan, adanya obstruksi, atau adanya massa.
(5)    Catat hasil pemeriksaan
b)      Palpasi
(1)    Instruksikan pasien untuk  berkata jika pasien merasakan nyeri tekan.
(2)    Palpasi dengan lembut menggunakan kedua jari telunjuk dan jari tengah ke batang hidung untuk mengetahui adanya massa, nyeri tekan, patah tulang hidung.
(3)    Palpasi dengan lembut menggunakan kedua jari telunjuk dan jari tengah mulai dari bagian bawah mata kearah tengah hidung dengan gerakan seperti mengumpulkan sesuatu untuk mengetahui adanya nyeri tekan atau massa.
(4)    Catat hasil pengkajian
c)       Pemeriksaan indra pembau
Pemeriksaan ini dapat dilakukan jika pasien dalam keadaan sehat dalam arti pasien sedang tidak flu. Karena jika pasien sedang flu maka hasil yang diperoleh tidak akurat.
(1)    Siapkan kom berisi kapas yang sudah diberi bau minyak kayu putih, alkohol, minyak wangi, kopi.
(2)    Instruksikan pasien untuk menebak wangi yang akan ia cium.
(3)    dekatkan satu persatu kapas yang sudah diberi bau – bauan.
(4)    Catat hasil pemeriksaan
2)      Alat Pernapasan Bagian Bawah
a)      Inspeksi
(1)    Atur pencahayaan ruangan
(2)     Posisikan pasien duduk dengan telanjang dada.
(3)    Anjurkan pasien agar tetap rileks
(4)    Lakukan pengamatan dari 4 sisi yaitu:
(a)    Depan, perhatikan sternum. Klavikula, tulang rusuk.
(b)   Belakang, perhatikan kesimetrisan skapula, bentuk tulang belakang
(c)    Kanan
(d)   Kiri
(5)    Inspeksi bentuk dada secara keseluruhan untuk mengetahui kelainan bentuk dada, dan tentukan frekuensi pernapasan.
(6)    Amati keadaan kulit dada, apakah terdapat retraksi interkosta (penggunaan otot bantu pernapasan biasanya pasien terlihat terengah – engah) selama bernapas, jaringan parut atau kelainan lainnya.
(7)    Dalam inspeksi ini juga kita bisa menginspeksi secara bersamaan payudara pasien, mengenai bentuk, warna kulit, keluaran (jika ada).
(8)    Catat hasil Inspeksi
b)      Perkusi
(1)    Posisikan pasien duduk menghadap pemeriksa
(2)    Perkusi dimulai dari atas klavikula kebawah pada spasium interkostalis dengan interval 4 – 5 cm (diatas klavikula, Interkosta 3, Interkosta 5 – 10). Perkusi dilakukan dengan menempelkan jari telunjuk tangan tidak dominan kedaerah yang akan diperkusi dan tangan yang dominan mengetuknya.
(3)    Bandingkan sisi kanan dan kiri.
(4)    Anjurkan pasien untuk menarik napas dan menahannya ketika kita memperkusi bagian – bagian diatas.
(5)    Pada keadaan normal saat perkusi klavikula maka yang terdengar adalah bunyi pekak, sedangkan ICS 3 terdengar bunyi rensonan, ICS 5 terdengar bunyi redup karena letak jantung, sedangkan pada ICS 6 – 10 terdengar suara timpani perut dan redup hati.
(6)    Tandai area redupnya bunyi
(7)    Posisikan pasien duduk membelakangi pemeriksa
(8)    Perkusi sepanjang bagian skapula sampai pada bagian batas bawah( skapula, interkosta (ICS) 8, ICS 10 kanan dan kiri, ICS 11).
(9)    Tandai area redupnya bunyi dengan spidol.
(10)Minta pasien untuk menghembuskan napas secara maksimal dan menahannya ketika kita hendak memperkusi bagian – bagian diatas.
(11)Ukur jarak tanda bunyi redup yang satu dengan yang dibawahnya. Pada pria normalnya jarak antar tanda adalh 5 – 6, pada perempuan 3 – 5.
(12)Pada keadaan normal saat perkusi skapula terdengar bunyi pekak, ICS 8 bunyi rensonan, ICS 10 redup hati sebelah kanan sedangkan sebelah kiri redup viseral.
(13)Catat hasil perkusi
c)       Auskultasi
(1)    Posisikan pasien duduk.
(2)    Gunakan diafragma stetoskop
(3)    Letakkan stetoskop dengan kuat diatas  kulit interkosta (daerah tengah – tengah antar tulang iga).
(4)    Mulai auskultasi secara zig – zag dari bagian atas klavikula kanan, kemudian klavikula kiri, Interkosta 1 kanan kemudian interkosta 1 kiri, lakukan pada tiap interkosta sampai interkosta ke 7.
(5)    Dengarkan inspirasi dan ekspirasi pada tiap tempat.
(6)    Catat hasil auskultasi
d)      Palpasi
(1)    Ekspansi Dada
(a)    Posisikan pasien berdiri , pemeriksa berdiri didepan pasien dan letakkan kedua telapak tanga secara datar pada dinding dada (letak kedua tangan ada dibawah payudara pasien).
(b)   Anjurkan pasien untuk menarik napas
(c)    Rasakan getaran dinding dada dan bandingkan sisi kanan dan kiri
(d)   Pemeriksa berdiri dibelakang pasien, letakkan tangan pemeriksa pada sisi lateral klien(bagian punggung), rasakan getaran saat pasien bernapas. (posisi tangan dibawah tulang skapula)
(e)   Bandingkan kedua sisi dinding dada
(f)     Catat hasil pemeriksaan.
(2)    Taktil Fremitus
(a)    Pemeriksa berdiri membelakangi pasien
(b)   Letakkan telapak tangan pada bagian belakang dinding dada(bagian punggung)  dekat apeks paru (bagian atas paru)
(c)    Instruksikan pasien untuk mengucapkan bilangan “sembilan – sembilan”  atau “tujuh – tujuh”
(d)   Minta pasien mengulangi ucapan bilangan sambil tangan bergerak kebagian bawah paru
(e)   Bandingkan femitus kiri dan kanan.
(f)     Posisi pemeriksa berhadapan dengan pasien
(g)    Lakukan taktil fremitus pada dinding anterior dada (bagian depan)
(h)   Ulangi langkah pasien untuk mengucapkan bilangan dan tangan bergerak kebagia bawah (sampai ICS 6)
(i)      Minta pasien untuk bicara lebih keras atau dengan nada rendah jika fremitus redup
(j)     Catat hasil fremitus.

4.       Sistem Kardiovaskuler
Pemeriksaan kardiovaskular pada lansia dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ketidaknormalan denyut jantung, ketidak normalan ukuran dan bentuk jantung secara kasar, mengetahui bunyi jantung, mendeteksi gangguan kardiovaskuler. Pada pemeriksaan ini juga bisa dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan payudara.
a.       Inspeksi
1)      Atur pencahayaan ruangan
2)      Posisikan pasien terlentang dengan pemeriksa berada diposisi kanan pasien
3)      Inspeksi keadaan dada pasien
4)      Catat hasil inspeksi
b.      Palpasi
1)      Gerakkan jari – jari sepajang masing – masing sisi sternum untuk meraba iga kedua yang berdekatan
2)      Palpasi ICS 2 kanan untuk menentukan area aorta dan ICS 2 kiri untuk area pulmonal.
3)      Palpasi area aorta dan pulmonal untuk mengetahui ada tidaknya pulsasi (denyutan).
4)      Palpasi ICS 5 kiri untuk mengetahui area trikuspidalis, amati adanya pulsasi
5)      Pindahkan secara lateral 5 – 7 cm ke garis midklavikula kiri untuk menemukan area apikal atau titik denyut maksimal (point of maximal Impuls, PMI)
6)      Palpasi daerah tersebut untuk mengetahui pulsasi
7)      Untuk mengetahui pulsasi aorta, lakukan palpasi pada area epigastrik tepat dibawah ujung sternum
8)      Pada palpasi payudara dimulai dari sekeliling puting susu sampai kearah axila bagian anterior dengan gerakan memutar.
9)      Catat hasil palpasi
c.       Perkusi
1)      Minta ijin pasien untuk membuka pakaian atas yang dikenakan
2)      Lakukan perkusi dari lateral kiri ke medial untuk mengetahui batas kiri jantung
3)      Lakukan perkusi dari lateral kanan ke medial untuk mengetahui batas kanan jantung
4)      Lakukan perkusi dari atas kebawah untuk mengetahui batas atas dan bawah jantung
5)      Bunyi redup yang dihasilkan menunjukkan posisi jantung didaerah yang diperkusi.
6)      Catat hasil pemeriksaan.
d.      Auskultasi
1)      Anjurkan klien bernapas normal dan meminta untuk menahannya saat ekspirasi.
2)      Dengarkan suara jantung S1 sambil palpasi nadi karotis erhatikan adanya splitting ( bunyi S1 ganda)
3)      Pada awal sitole dan diastole, dengarkan secara seksama untuk mengetahui adanya bunyi tambahan S1 atau murmur
4)      Anjurkan klien bernapas normal, dengarkan S2 secara seksama untuk mengetahui splitting saat inspirasi
5)      Periksa frekuensi jantung, yaitu setelah kedua bunyi terdengar jelas seperti “lub-dub”, hitung setiap kombinasi S1 dan S2 sebagai satu denyut jantung. Hitung selama 1 menit
e.      EKG
EKG diperlukan agar tidak terjadi kesalahan dalam menegakkan diagnosa berikut adalah cara pemasangan EKG:
1)      Tangan
a)      Merah (RA)        : dipasang bagian kanan
b)      Kuning (LA)         : dipasang bagian kiri
2)      Kaki
a)      Hijau (LF)             : dipasang dikiri
b)      Hitam (RF)           : dipasang dikanan
3)      Sadapan
a)      V1           : warna merah dipasang ICS 4 sternal kanan
b)      V2           : warna kuning dipasang ICS 4 sternal kiri
c)       V3           : warna hijau terletak diantara V2 dan V4
d)      V4           :warna coklat dipasang di midklavikula kiri ICS 5
e)      V5           : warna hitam dipasang sejajar V4 garis aksila anterior
f)       V6           : warna ungu dipasang sejajar V4 garis mid aksila.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar