Minggu, 03 Februari 2013


1.       Sistem Pencernaan dan Perkemihan
Pengkajian sistem pencernaan dan perkemihan dapat dilakukan secara bersamaan karena fokus pengkajian berpusat pada abdomen. Pemeriksaan neurologi juga dapat dilakukan bersamaan.
a.       Alat Yang Digunakan
1)      Stetoskop
2)      Hanscoon
3)      Senter atau penlight
4)      Bantal kecil
5)      Spidol
6)      Meteran/penggaris
7)      Kom berisi gula, garam, kopi, perasan jeruk
b.      Anamnesa
1)      Sistem Pencernaan
a)      Tanyakan apakah pasien mengalami masalah pada sistem pencernaan (diare, konstipasi, obstipasi)
b)      Tanyakan apakah pasien mengalami penyakit yang berkaitan dengan sistem pencernaan (misal DM)
c)       Tanyakan apakah pasien sedang menjalankan diet (bagi penderita DM, Jantung, Gangguan Ginjal)
d)      Tanyakan jenis makanan yang dikonsumsi sehari – hari, perhatikan bila pasien banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung purin
2)      Sistem Perkemihan
a)      Tanyakan pada pasien apakah mengalami gangguan pada sistem Perkemihan ( misalkan inkontinensia uri, retensio uri, nyeri saat berkemih, dll)
b)      Tanyakan apakah pasien pernah mengalami sakit pada sistem perkemihan
c)       Tanyakan juga berapa konsumsi air putih harian pasien ( normalnya 7 – 8 gelas/hari)
d)      Tanyakan jenis air yang sering dikonsumsi tiap hari.
c.       Pengkajian
1)      Inspeksi
a)      Alat Pencernaan Bagian Atas
(1)    Atur pencahayaan
(2)    Minta Klien untuk membuka mulutnya
(3)    Sinari rongga mulut dengan senter atau penlight
(4)    Lihat kebersihan gigi dan mulut, amati adanya sariawan, gusi berdarah, lubang pada gigi, jumlah gigi, kebersihan lidah, dan lihat apakah ada kelainan
(5)    Minta pasien menjulurkan lidahnya lalu menggerakkan lidahnya
(6)    Angkat dagu pasien dan sinari bagian pangkal lidah untuk melihat apakah terdapat tonsilitis
b)      Abdomen
(1)    Atur posisi pasien terlentang, letakkan bantal dibawah lutut untuk menyokong dan melepaskan otot – otot abdomen.
(2)    Buka bagian abdomen mulai dari prosesus xifoideus sampai simfisis pubis
(3)    Amati bentuk umum abdomen, warna kulit, kontur permukaan perut, adanya retraksi, penonjolan, kesimetrisan, jaringan parut, striae, dll
(4)    Perhatikan posisi, warna, ada tidaknya inflamasi, ada tidaknya pengeluaran pada umbilikus
(5)    Amati gerakan kulit pada abdomen saat inspirasi dan ekspirasi
2)      Pemeriksaan indra pengecapan
a)      Minta pasien untuk menutup mata
b)      Minta pasien untuk mengidentifikasi rasa yang ia cicipi
c)       Berikan perasa satu demi satu
d)      Catat hasil pengkajian
3)      Auskultasi  
a)      Hangatkan bagian diafragma dan bell stetoskop
b)      Letakkan sisi diafragma stetoskop diatas kuadran kanan bawah pada area sekum. Minta pasien untuk tidak bicara. Dengarkan adanya bising usus.
c)       Perhatikan frekuensi dan karakternya ( bising usus normal 6 – 13 x/menit ada berhentinya)
d)      Jika bising usus tidak terdengar maka auskultasi pada setiap kuadran
e)      Catat bising usus apakah terdengar normal, tidak ada, hiperaktif, atau hipoaktif)
f)       Letakkan bagian bell stetoskop diatas aorta, arteri renalis, arteri iliaka, dan arteri femoral (bawah prosesus xifoid, bagian tengah – tengah abdomen, 3 – 4 cm diatas tengah – tengah abdomen, 3 – 4 cm dibawah tengah – tengah abdomen)
g)      Catat hasil pengkajian
4)      Perkusi
Pada perkusi mulailah perkusi dari kuadran kiri bawah kemudian bergerak searah jarum jam, perhatikan reaksi pasien dan catat apakah ada keluhan, lakukan perkusi pada area timpani dan redup.
a)      Perkusi untuk menentukan posisi dan ukuran hati
(1)    Posisi pemeriksa berdiri di sisi kanan pasien
(2)    Lakukan perkusi dari garis midklavikula kanan tepat dibawah umbilikus keatas melewati area timpani sampai terdengar suara redup, beri tanda dengan pensil pada tempat mulai ditemukannya suara redup.
(3)    Lakukan perkusi pada garis midklavikula kanan yang dimulai dari area rensonan paru kebawah sampai ditemukan suara redup.
(4)    Ukur jarak antara dua tanda tadi, normalnya panjang hepar pada garis midklavikula adalah 6 – 12 cm dengan batas bawah terletak pada atau sedikit dibawah tulang rusuk
(5)    Jika ditemukan adanya pembesaran hati, ukur penurunan hatu dengan meminta pasien menarik napas dalam dan menahannya saat pemeriksa melakukan perkusi keatas dari abdomen ke garis midklavikula kanan
b)      Perkusi Lambung
(1)    Pekusi sangkar iga bawah anterior dan bagian epigastrik
c)       Perkusi Ginjal
(1)    Dilakukan di dinding abdomen belakang pada sudut kostovertebral, dengan dialasi telapak tangan kiri
(2)    Lakukan perkusi dengan sisi ulnar kepalan tangan kanan
(3)    Catat hasil pengkajian
5)      Palpasi
a)      Palpasi Perut
(1)    Palpasi Ringan
(a)    Palpasi ringan abdomen pada setiap kuadran. Hindari area yang sebelumnya sebagai titik masalah
(b)   Latakkan tangan secara ringan diatas abdomen dengan jari – jari ekstensi dan berhimpitan
(c)    Untuk mengurangi rasa geli tempatkan tangan pasien diatas tangan pemeriksa.
(d)   Jari – jari telapak tangan sedikit menekan perut sedalam 1 cm
(e)   Palapsi untuk mengetahui adanya area nyeri, penegangan abdomen, dan ketidaknyamanan.
(f)     Jika ditemukan adanya nyeri, uji adanya nyeri lepas (tekan dalam kemudian lepas dengan cepat untuk mendeteksi apakah nyeri timbul dengan melepaskan tangan)
(g)    Lakukan palpasi disekitar umbilikus dan cincin umbilikal
(h)   Catat hasil pengkajian
(2)    Palpasi Dalam
(a)    Gunakan metode palpasi bimanual
(b)   Tekan dinding abdomen sedalam 4 – 5 cm
(c)    Catat adanya massa dan struktur organ dibawahnya. Jika terdapat massa, catat ukuran, lokasi, mobilitas, kontur, dan kekakuan
b)      Palpasi Hati
(1)    Pemeriksa beridi disebelah kanan pasien
(2)    Letakkan tangan kiri pemeriksa pada dinding torak kanan posterior pasien sekitar tulang rusuk ke 11 atau 12, tangan kanan dibawah tulang rusuk kanan
(3)    Tekan tangan kiri tersebut keatas sehingga sedikit menekan dinding dada
(4)    Saat klien ekspirasi, lakukan penekanan sedalam 4 – 5 cm kearah bawah pada batas tulang rusuk
(5)    Jaga posisi tangan pemeriksa dan minta pasien untuk inspirasi
(6)    Ketika inspirasi, rasakan batas hepar bergerak menentang tangan pemeriksa yang secara normal terasa dengan kontur reguler
(7)    Jika hepar membesar, lakukan palpasi dibatas bawah tulang rusuk kanan. Catat pembesaran dan nyatakan dalam cm.
(8)    Catat hasil pengkajian
c)       Palpasi Limpa
(1)    Pemeriksa berdiri di sisi kanan klien, pegang secara menyilang abdomen pasien dengan tangan kiri pemeriksa dan letakkan tangan dibawah pasien dan diatas sudut kostovertebral. Tekan keatas dengan tangan kiri
(2)    Tempatkan telapak tangan kanan dengan jari – jari diatas abdomen dibawah tepi kiri kostal
(3)    Tekan ujung jari kearah limpa kemudian minta klien menahan napas dalam
(4)    Palapasi tepi limpa saat limpa bergerak ke bawah kearah tangan pemeriksa
d)      Jika Pasien Mengalami Asites
(1)    Untuk mengkaji gelombang cairan asites, mintalah bantuan perawat lain karena prosedur ini memerlukan 3 tangan
(2)    Posisikan pasien tidur terlentang
(3)    Minta perawat lain menekan area tepat sepanjang garis tengah vertikal dari abdomen dengan tepi tangan dan lengan atas
(4)    Letakkan tangan pemeriksa pada setiap sisi abdomen dan ketuk salah satu sisi dengan ujung jari
(5)    Rasakan impuls gelombang cairan dengan ujung jari tangan yang satunya.
e)      Palpasi Kandung Kemih
(1)    Pemeriksa berdiri disamping kanan pasien
(2)    Palpasi bagian luar inguinalis sampai ke arah tengah
(3)    Rasakan adanya distensi kandung kemih atau adanya nyeri tekan
(4)    Cata haisl pengkajian
f)       Palpasi Ginjal
(1)    Ketika melakukan palpasi ginjal kanan, letakkan tangan kiri di bawah panggul, dan elevasikan ginjal kearah anterior
(2)    Letakkan tangan kanan pada dinding perut anterior pada garis midklavikula di tepi bawah batas kosta
(3)    Tekan tangan kanan secara langsung keatas sambil pasien menarik napas panjang. Normalnya ginjal tidak teraba, tapi pada orang yang sangat kurus bagian bawah ginjal kanan dapat dirasakan
(4)    Jika ginjal teraba rasakan bentuk, ukuran dan adanya nyeri tekan
(5)    Lakukan hal yang sama pada ginjal kiri, dengan posisi pemeriksa berada sidamping kiri pasien.
(6)    Catat hasil pengkajian.


2.       Sistem Muskuloskeletal
a.       Alat
1)      Hammer
b.      Anamnesa
1)      Tanyakan pada psien apakah pasien pernah mengalami trauma atau cedera pada sistem  muskuloskeletal
2)      Tanyakan apakah pasien mengalami kram atau nyeri pada persendian dipagi hari, jika ia tanyakan intensitas, frekuensi, lamanya, tindakan yang dilakukan untuk meredakan kram atau nyeri, dan pada saat apa nyeri atau kram itu terjadi.
3)      Catat hasil pengkajian
c.       Inspeksi
1)      Minta pasien untuk berjalan sejauh 1 – 2 meter
2)      Lihat cara dan gaya berjalan pasien
3)      Inspeksi ukuran otot, bandingkan sisi yang satu dengan yang lain, amati adanya atrofi atau hipertrofi.
4)      Amati susunan tulang dan adanya deformitas sendi
5)      Lihat persendian apakah ada kelainan pada persendian
6)      Amati keadaan tulang untuk mengetahui adanya pembengkakan
7)      Amati kekuatan suatu bagian tubuh dengan cara memberikan penahanan secara resisten
8)      Uji kekuatan otot dengan cara menyuruh klien menarik dan mendorong tangan pemeriksa, bandingkan kekuatan otot ekstremitas kanan dan kiri.
9)      Kaji rentang gerak persendian (range of motion, ROM)
10)   Kaji refleks plantar dengan cara goreskan ujung hammer pada telapak kaki pasien berbaring , dimulai dari ujung telapak kaki belakang terus keatas berbelok sampai pada ibu jari kaki. Lakukan pada kedua kaki
11)   Refleks patela dengan cara minta pasien untuk duduk dengan kaki menggantung raba tendo patela, satu tangan meraba paha penderita bagian distal, tangan lain memukul refleks hammer pada tendo patela
12)   Catat hasil pengkajian
d.      Palpasi
1)      Lakukan palpasi pada saat otot istirahat dan pada saat bergerak secara aktif dan pasif untuk mengetahui adanya kelemahan (flasiditas), kontraksi tiba – tibba secara involunter (spastisitas)
2)      Palpasi persendian untuk mengetahui adanya nyeri tekan, gerakan, bengkak, nodul, dll
3)      Palpasi adanya edema atau nyeri tekan pada tulang.
4)      Cata hasil pengkajian

3.       Sistem Integumen
a.       Alat
1)      Botol berisi air dingin dan air panas
2)      Handscoon
b.      Inspeksi
1)      Inspeksi keadaan kulit, adanya bintik pada kulit, warna, adanya lesi, adanya tonjolan, jaringan parut
2)      Minta pasien untuk menutup mata, sentuh kulit pasien dengan botol air panas dan dingin secarabergantian. Minta pasien untuk mengatakan sensasi yang dirasakan dan menunjukkan letak tempat asal sensasi tersebut
c.       Palpasi
1)      Lakukan palpasi untuk mengetahui adanya massa atau nyeri tekan pada kulit.
2)      Jika teraba adanya massa rasakan bentuk, konsistensi, luasnya, warna kulit disekitar tonjolan, dan rasakan apakah tonjolan tersebut berada di bawah kulit atau tonjolan berasal dari organ lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar